Jumat, 14 Desember 2012

LAPORAN OBSERVASI TERKAIT PERAN GURU DALAM LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH


LAPORAN OBSERVASI  TERKAIT PERAN GURU
DALAM LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH
Oleh: 1. Nurwanti Adi Rahayu (4101411150)
                                                  2. Ahmad Rifai (4301411097)
                                                  3. Cahyo Fajar Handayani (4301411113)

Observasi ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui seberapa jauh peran guru mata pelajaran terkait pelaksanaan program bimbingan dan konseling di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas. Peran yang dimaksudkan adalah peran guru sebagai fasilitator, informator, motivator, mediator, dan kolaborator.
Observasi yang kami lakukan dilaksanakan pada hari Sabtu, 8 Desember 2012 di SMP Karya Bakti Jatilawang dan SMA Karya Bakti Jatilawang di kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. SMP dan SMA ini merupakan sekolah yang berada dalam naungan yayasan yang sama, jadi kurang lebih kultur yang berkembang tidak jauh berbeda. Sementara itu, metode yang kami gunakan dalam memperoleh data adalah dengan metode wawancara. Adapun yang menjadi narasumber kami adalah Ibu Turyati. Beliau mengajar di kedua sekolah tersebut, yakni mata pelajaran Matematika dan PPKn untuk SMP dan mata pelajaran Matematika untuk SMA. Berdasarkan hasil wawancara kami, dapat diparafrasekan sebagai berikut,
Sebagai seorang guru mata pelajaran, Ibu Turyati juga memiliki kepedulian terhadap layanan bimbingan dan konseling di SMP dan SMA Karya Bakti Jatilawang. Beliau berpendapat bahwa program BK sangat perlu diadakan di sekolah, karena kegiatan belajar mengajar tidak akan berjalan maksimal tanpa adanya program BK. Hal ini seiring dengan sering terjadinya permasalahan yang muncul terutama di kalangan siswa, seperti yang ada di SMP dan SMA ini yaitu tidak memasukkan baju, tidak menggunakan atribut yang ditentukan sekolah, pamit sekolah tetapi nyatanya mampir di tempat lain, tidak membayarkan uang SPP, tidak memperhatikan materi yang disampaikan, hingga tidak mengerjakan tugas yang diberikan. Dapat dibayangkan apabila program BK itu tidak ada dalam penanganan masalah-masalah tersebut.
Dari fenomena yang muncul tersebut, SMP dan SMA Karya Bakti Jatilawang melakukan serangkaian kegiatan kaitannya dengan layanan BK, di antaranya menangani masalah yang muncul di lingkunag sekolah terkait kenakalan siswa yang tidak mau berangkat sekolah, melakukan home visit jika siswa yang membutuhkan komunikasi langsung dengan wali murid, mengadakan perhitungan indeks pelanggaran, membuka konsultasi masuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi, razia handphone secara mendadak, dan razia ketika upacara. Meskipun sudah dilakukan berbagai upaya, namun menurut bu Turyati pelayanan BK di SMP dan SMA Karya Bakti Jatilawang belum maksimal, satu masalah belum terselesaikan muncul masalah yang baru.
Di SMP dan SMA Karya Bakti Jatilawang, program layanan BK tidak hanya dilakukan oleh guru BK, akan tetapi ada peran dari guru lain yang turut membantu dalam mengatasi dinamika permasalahan siswa, terutama wali kelas. Masalah yang muncul dari siswa sebisa mungkin diatasi oleh wali kelas. Jika masalah tersebut gagal ditangani oleh wali kelas baru diserahkan pada guru BK. Selain itu, guru mata pelajaran juga mengambil peran penting, kaitannya dengan permasalahan yang berhubungan dengan  materi pelajaran. Sementara itu, kaitannya dengan peran guru sebagai informator kurang maksimal karena guru mata pelajaran hanya menyampaikan informasi ke-BK-an secara parsial dan kurang detil. Sementara peran guru sebagai fasilitator sudah berjalan dengan cukup baik, yaitu guru mampu mengantisipasi adanya ketimpangan kemampuan siswa dalam menangkap materi pelajaran. Siswa yang memiliki daya tangkap “rendah” akan dicarikan suatu metode agar siswa itu mampu mengimbangi temannya yang sudah paham tentang suatu materi yang telah disampaikan.
Peran guru sebagai mediator di kedua sekolah ini berjalan dengan baik, hal ini dibuktikan dengan adaanya suatu kerjasama antara guru mata pelajaran dan guru BK. Guru mata pelajaran yang secara langsung mengetahui permasalahan pada siswa menyampaikan kasus itu kepada guru BK. Kemudian guru BK melakukan pendekatan terhadap siswa tersebut, hingga akhirnya diketahui karakter siswa dan sumber masalah yang terjadi, kemudian hasil ini disampaikan kepada guru mata pelajaran lagi untuk dilakukan suatu pengentasan masalah. Sementara peran guru sebagai motivator siswa dalam pemanfaatan layanan BK juga berjalan dengan baik. Guru mata pelajaran memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswanya yang membutuhkan layanan BK, misalkan ketika pelajaran ada siswa yang membutuhkan pelayanan BK dengan beberapa alasan yang logis dan harus meninggalkan kelas, maka guru mata pelajaran mempersilakannya dengan catatan alasan yang disampaikan benar.
Sementara itu, peran guru sebagai kolaborator ditunjukkan dengan adanya kerjasama antara guru mata pelajaran dan  guru BK, selama masalah dapat diatasi oleh guru mata pelajaran, maka sebisa mungkin masalah tersebut dapat diselesaikan. Apabila sudah tidak dapat diselesaikan maka guru BK lah yang turun tangan dalam pengentasan masalah yang muncul itu.
            Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa guru mata pelajaran di SMP dan SMA Karya Bakti Jatilawang sudah menyadari perannya dalam program pelayanan BK, baik sebagai informator, fasilitator, mediator, motivator, dan kolaborator. Terima kasih kami sampaikan kepada Ibu Turyati yang bersedia menjadi narasumber kami serta SMP dan SMA Karya Bakti Jatilawang, Banyumas yang menjadi tujuan observasi kami.

DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA
OBSERVASI BIMBINGAN DAN KONSELING*)

  1. Menurut Ibu, dalam suatu sekolah perlu atau tidak diadakan program BK?
  2. Apa masalah yang sering muncul di sekolah terkait dengan BK?
  3. Apa sajakah kegiatan-kegiatan dari BK di sekolah?
  4. Menurut Bapak pelayanan BK di sekolah ini, sudah sejauh mana?
  5. Selain guru BK, apakah ada pihak lain dari warga sekolah yang berperan dalam pelaksanaan layanan BK? Seperti apa contohnya?
  6. Sejauh apakah guru mata pelajaran berperan dalam program BK?
  7. Apakah guru mata pelajaran juga menyampaikan informasi tentang tujuan BK serta manfaatnya bagi siswa?
  8. Masalah anak pasti berbeda, ada yang daya tangkap tinggi dan ada yang rendah, apakah ada strategi yang disiapkan guru mata pelajaran dalam menyelesaikan jika terjadi masalah ini, agar yang mengalami kesulitan mampu mengimbangi yang sudah paham?
  9. Apakah ada kerjasama dari guru mata pelajaran dan guru BK mengenai pengidentifikasian siswa yang membutuhkan layanan BK?
  10. Apakah guru mapel juga memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswanya yang membutuhkan  layanan Bk? (mungkin saja, ketika pelajaran si anak membutuhkan pelayanan BK dengan beberapa alasan logis dan harus meninggalkan kelas)
  11. Apakah guru mapel di sekolah ini, juga dilibatkan dalam pengentasan masalah dari siswa?


*) Sabtu, 8 Desember 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar